2018-07-19

Lewat Flushing, Kementan Berhasil Tingkatkan Bobot Pedet Hingga 33 Persen

BPTP NUSA TENGGARA BARAT
...

RMOL. Kementerian Pertanian melalui Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan Nusa Tenggara Barat (NTB) mampu meningkatkan bobot lahir pedet atau anak sapi dari 15 kg menjadi 20 kg.

 

Peningkatan sebesar 33 persen itu dilakukan melalui teknologi flushing. Teknologi ini sangat baru bagi peternak setempat. Teknologi ini mempraktikkan pemberian pakan bernutrisi tinggi selama dua bulan di akhir kebuntingan dan dua bulan setelah melahirkan berupa rumput unggul, legume, dedak dan starbio.

"Sebelum mengenal flushing, tidak ada perbedaan pemberian pakan di masa-masa tersebut, mereka memberi pakan berupa rumput alam yang kadang dicampur dengan bonggol pisang. Penampilan pedet terlihat mengkilat kulitnya. Performa induk setelah melahirkan juga diakui lebih sehat dan kuat dibandingkan sebelum flushing," jelas Ketua Kelompok Peternak Sambuk Manis, Samsul Falah, dalam keterangan yang diterima wartawan, Kamis (19/7).

Flushing merupakan satu dari beberapa inovasi yang diperkenalkan BPTP NTB dalam pendampingan kawasan peternakan di lokasi ini.
Sedangkan Sambuk Manis merupakan kelompok tani yang  terdiri dari 43 peternak berasal dari Desa Beriri Jarak, Kecamatan Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur. Kelompok tersebut mendapat kegiatan pendampingan kawasan peternakan tahun 2017 dari BPTP NTB.


Desa Beriri Jarak dipilih untuk didampingi oleh BPTP karena lokasi tersebut juga menerima program unggulan Kementan SIWAB tahun 2017. Program SIWAB atau Sapi Induk Wajib Bunting tentu sudah tak asing lagi karena telah berjalan selama dua tahun.


Selain menerapkan teknologi flushing pada sapi induk bunting tua dan pasca melahirkan, lanjut Samsul, peternak juga menerapkan ilmu membuat pupuk kompos dari kotoran sapi yang diajarkan BPTP NTB melalui pendampingan.  

"Sebelum belajar membuat kompos, kotoran sapi yang mellimpah hanya kami biarkan saja, tak diapa-apakan," ujar Samsul.


Fasilitasi pendampingan yang dilakukan oleh BPTP NTB tahun 2017 adalah dengan membangun rumah kompos hingga memunculkan usaha baru bagi Kelompok Tani Sambuk Manis, yaitu usaha penjualan pupuk kompos yang dikemas dengan nama Ambengan Makmur. Hasil penjualan pupuk kompos selama ini mampu membiayai sendiri pembelian dedak dan starbio untuk pakan flushing.

Selain itu, Samsul akui penerimaan dari penjualan kompos tahun lalu adalah Rp 15 juta. Kekurangan belanja bahan pakan flushing diambil dari iuran wajib anggota.  

“Kalau untuk rumput unggul di pakan flushing, kami sudah menanamnya sendiri, dan tumbuh subur disini karena air tersedia sangat cukup,” terangnya.

Pemasaran pupuk kompos ini telah menjangkau wilayah luar desa. Diakui Samsul kualitas CN-ratio nya lebih rendah bahkan sudah memenuhi persyaratan pupuk kompos yang ditetapkan pemerintah.


“CN ratio pupuk kompos kami 20%, sementara produksi kelompok peternak lain ada yang masih 40%”, katanya.


Selain inovasi teknologi flushing, teknologi Hijauan Pakan Ternak atau rumput unggul dan pembuatan pupuk kompos, pendampingan BPTP NTB juga memberikan fasilitasi pembuatan kandang jepit untuk pelaksanaan kawin suntik. Hal ini untuk mempermudah pekerjaan petugas inseminator, sehingga keberhasilan IB pun meningkat.


Dalam rilis yang dikirimkan oleh Tim Pendampingan Kawasan Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP), Vyta Hanifah, diketahui bahwa masyarakat yang mengikuti pelatihan sangat puas dengan hasil teknologi flushing. Pasalnya, perbaikan kondisi ternak meningkatkan keadaan ekonomi keluarga.


Perolehan capaian produksi akibat dari perbaikan manajemen serta perapihan administrasi kelompok juga mengantarkan kelompok Sambuk Manis ini memenangkan lomba kelompok peternak terbaik tingkat Kabupaten Lombok Timur tahun 2017. Kelompok ini tengah menunggu hasil perlombaan di tingkat provinsi.

Pemilihan lokasi pendampingan dipertimbangkan dari sisi kedekatan aksesnya dengan lokasi SPR (Sentra Peternakan Rakyat) yang juga merupakan program Kementan.  

Terkait pendampingan tersebut, Kepala Balai Besar Pengkajian Balitbangtan Kementan, Dr. Haris Syahbuddin, menyatakan BPTP NTB juga melakukan pengenalan teknologi kepada seluruh kelompok peternak lain di seluruh NTB.

"Hal ini menjadi salah satu penguat dalam mewujudkan program NTB sebagai bumi sejuta sapi," kata Haris

Sub Sektor : Sapi
Komoditas : Peternakan
Teknologi yang Digunakan : FLUSHING (TEKNOLOGI PAKAN BERNUTRISI TINGGI SAAT KEBUNTINGAN 2 BULAN TERAKHIR)
http://nusantara.rmol.co/read/2018/07/19/348511/Lewat-Flushing,-Kementan-Berhasil-Tingkatkan-Bobot-Pedet-Hingga-33-Persen-